Mengapa Bahasa Yunani Digunakan Untuk Menulis Alkitab Perjanjian Baru ?

Tuhan sertamu !

Mengapa Kitab Suci orang Kristen berbahasa Yunani ? Mengapa orang Kristen banyak menggunakan artian Yunani ? Mengapa tulisan Ulama Kristen jaman dulu banyak menggunakan bahasa Yunani ?

YUNANI KOINE

Bahasa Yunani yang digunakan orang Kristen adalah bahasa Yunani Koine.
Κοινη Ελληνικη(Koini Elliniki: Yunani Koine) artinya bahasa Yunani umum, bahasa ini adalah turunan dari bahasa Yunani Kuno, pada awalnya Yunani Koine dituturkan oleh para tentara Alexander Agung lalu berkembang pada abad 4 SM setelah Alexander Agung wafat. Bahasa ini jelas berbeda dari bahasa Yunani jaman sparta atau bahasa Yunani yang digunakan untuk menulis hikayat Dewa-Dewi Yunani, perbedaannya mungkin ‘sedrastis’ bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Jawa yang dituturkan sekarang ini. Walaupun para tentara Alexander Agung berasal dari Makedonia, tetapi karena banyak daerah yang ditaklukan, bahasa ini dituturkan dari Alexandria Mesir sampai ke beberapa wilayah India. Karena luas daerah penuturnya, bahasa Yunani Koine menjadi sangat berbeda dengan bahasa Yunani pendahulunya yaitu Yunani Kuno, mungkin bisa dibilang seperti perbedaan bahasa Melayu Kuno dan bahasa Melayu Klasik yang banyak mendapat pengaruh bahasa Arab.
Agama Kristen mengklaim sebagai penerus dari Agama Yahudi baik secara sejarah, tradisi ataupun rohani. Oleh karena ini rentetan panjang sejarah Agama Yahudi SECARA PENUH TANPA PILAH-PILIH pada masa sebelum Masehi dianggap oleh orang Kristen sebagai sejarah Kekristenan juga. Pada zaman sebelum Kristus(sebelum Masehi), bangsa Yahudi sudah mendapat pengaruh Helenis(Yunani) yang bermula dari luar Yudea(Sebutan untuk Palestina-Israel pada masa penjajahan Romawi). Begini sejarahnya.

SEPTUAGINTA: CARA FIRAUN YUNANI MENGHELENISASI YAHUDI PERANTAUAN

Saat Alexander Agung sekarat, para teman-temannya bertanya “kepada siapa engkau akan mewariskan Kerajaan ini ?”, Alexander Agung menjawab “kepada yang terkuat”. Setelah Alexander Agung wafat, perkataan ini menjadi perdebatan di dalam Kerajaan ditambah karena istri Alexander Agung yang bernama Roxane baru ketahuan hamil setelah Sang Raja wafat, ini menjadi pelajaran untuk para wanita kalau merasa mual tidak wajar tolong langsung check ke dokter. Lalu para Jendral dan pihak-pihak dalam Kerajaan berebut wilayah dan saling bunuh sana sini, sampai akhirnya wilayah taklukan Alexander Agung dibagi menjadi 4, untuk detilnya masalah ini tentu tidak akan dijelaskan disini. Di Alexandria Mesir, Ptolemaios Soter mantan Jendral Alexander Agung mengangkat diri menjadi Firaun(sebutan untuk penguasa Mesir) dan memulai Dinasti Ptolemaik di Mesir. Lalu Ptolemaios Soter digantikan oleh anaknya Ptolemaios Philadelphos.
Pada masa pemerintahan Ptolemaios Philadelphos, Orang Yahudi di Alexandria sudah banyak yang tidak bisa lagi bahasa Ibrani, kemungkinan juga karena pengaruh kuatnya Helenisasi pada masa itu. Melihat ini Ptolemaios Philadelphos berinisiatif untuk mensubsidi para Sarjana-Sarjana Yahudi datang ke Alexandria untuk menterjemahkan Kitab Taurat, Kitab Para Nabi, Kitab sejarah dan Kitab-Kitab Syair yang disebut oleh orang Yahudi sebagai Tanakh(lalu Kitab ini dipakai juga oleh orang Kristen dan disebut Perjanjian Lama, sampai sekarang orang Yahudi juga masih menggunakan ini), selain Tanakh ini sastra-sastra Yahudi lain juga ikut diterjemahkan seperti: Tobit, Yudit, Makabe 1-3, Dll yang dalam Gereja Katolik masih dipakai disebut Deuterokanonika(Kanon kedua) atau dalam Gereja Orthodox disebut Anaginoskomena(Kitab-Kitab yang layak dibaca).
Kata Septuaginta digunakan untuk menyebut terjemahan Kitab-Kitab Yahudi ini, yang dalam bahasa Yunani disebut Evdomikonta, artinya ‘Sang Tujuh Puluh’ yaitu taksiran dari jumlah 72 Sarjana Yahudi yang menerjemahkan Kitab-Kitab ini.
Lalu orang-orang Yahudi yang berbudaya Helenis(Yunani) ini juga ada beberapa yang datang kembali ke Yudea dan membentuk suatu komunitas juga, hal ini tercatat dalam Kitab Suci Kristen demikian:
Kisah Para Rasul 6:1
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.

Terjemahan Kitab Suci Septuaginta ini juga akhirnya menjadi pedoman orang-orang Kristen mula-mula sebab mereka berbahasa Yunani, sekarang Septuaginta ini masih dipakai oleh Gereja Orthodox Yunani, dan terjemahan Perjanjian Lama Gereja Orthodox berbahasa Inggris juga berbasis Septuaginta ini.

KRISTUS BERBICARA MENGGUNAKAN BAHASA YUNANI

Kristus itu hidup bukan di daerah yang berkebudayaan tunggal, tetapi di daerah yang sangat multikultural. Kristus lahir pada saat bangsanya dijajah oleh Kekaisaran Romawi, bahkan Kristus saat lahir disensus sesuai hukum Romawi pada masa Kaisar Agustus(bdk. Lukas 2:1-5). Pada zaman Kristus ini bangsa Yahudi di Yudea tidak menggunakan bahasa Ibrani untuk sehari-hari, mereka hanya menggunakan bahasa Ibrani untuk keperluan ritual saja, sedangkan sehari-hari mereka menggunakan bahasa Aramia yang telah tercampur dengan bahasa Ibrani, biasanya disebut ‘Jewish Palestinian Aramaic’, bahkan dalam Talmud(Kitab Tafsir) Yahudi bahasa yang digunakan bahasa Aramia mix Ibrani ini dengan menggunakan aksara Ibrani.
Bahasa Yunani Koine ini juga mereka gunakan untuk berbicara dengan bangsa asing karena bekas pengaruh Alexander Agung, bahasa Yunani Koine menjadi lingua franca(bahasa internasional) pada masa itu, seperti bahasa Inggris pada zaman sekarang. Bahkan dalam Injil tercatat Kristus pernah berbicara dengan orang Yunani berkebangsaan(warga negara) Siro-Fenesia:
Markus 7:26-30
26. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
27. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
28. Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
29. Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”
Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

Dari sini sudah cukup membuktikan bahwa Kristus juga pernah berbicara menggunakan bahasa Yunani karena berkomunikasi dengan orang biasa yang tidak mungkin bisa bahasa Aramia Yahudi karena dia berkebudayaan Yunani, ditambah bahasa Yunani adalah bahasa internasional pada masa itu. Seperti saat masa penjajahan Belanda di Nusantara dulu, para kaum terpelajar Jawa sudah pasti bisa bahasa Belanda dan berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda dengan orang Belanda.

DARI YESHUA MENJADI IESOUS

Mungkin banyak dari kita bertanya-tanya “Yesus itu kan serapan bahasa Yunani, nama dalam bahasa daerahNya apa ? Kenapa nama diterjemahkan ?”. Nama Yesus itu memang serapan dari bahasa Yunani yaitu ιησους(Iesous/Iisous), ini bukan terjemahan namun karena bentuk dan aturan bahasa Yunani maka Nama Yesus harus ditulis Iesous. Sebagai contoh dalam bahasa Jepang nama Andreas menjadi アンドレアス(Andoreasu), atau nama Lee menjadi リー(Rii). Bahasa Yunani juga begini, sedangkan Nama Yesus dalam bahasa Ibrani adalah ישוע(Yeshua), etimologi Nama ini adalah dari יהוה(YHWH: Nama TUHAN dalam bahasa Ibrani) dan שוע‬(shua: penyelamat). Nama serupa juga ada dalam Kitab Yahudi:
2 Tawarikh 31:15
Di kota-kota imam ia dibantu dengan setia oleh Eden, Minyamin, Yesua, Semaya, Amarya dan Sekhanya dalam pembagian itu kepada saudara-saudara mereka menurut rombongan, kepada orang dewasa dan anak-anak,
דברי הימים ב 31:15
וְעַל־יָדֹו עֵדֶן וּמִנְיָמִן וְיֵשׁוּע(Yeshua)ַ וּשְׁמַעְיָהוּ אֲמַרְיָהוּ וּשְׁכַנְיָהוּ בְּעָרֵי הַכֹּהֲנִים בֶּאֱמוּנָה לָתֵת לַאֲחֵיהֶם בְּמַחְלְקֹות כַּגָּדֹול כַּקָּטָן׃
Nama Yeshua dalam 2 Tawarikh 31:15 ini oleh para 72 Sarjana Yahudi Pra-Kristus diterjemahkan ke Septuaginta menjadi Iesous dalam bahasa Yunani:
2 Chronicles 31:15
δια χειρος οδομ και βενιαμιν και ιησους και σεμει και αμαριας και σεχονιας δια χειρος των ιερεων εν πιστει δουναι τοις αδελφοις αυτων κατα τας εφημεριας κατα τον μεγαν και τον μικρον.
Dia kheiros odom kai Beniamin kai IESOUS kai Semei kai Amarias kai Sekhonias dia kheiros ton iereon en pistei doumai tois adelphois avtoon kata tas afimerias kata ton megan kai ton mikron.

Disini kita sudah mengetahui bahwa sebelum Kristus lahir sudah ada tokoh dalam Perjanjian Lama yang bernama Yeshua juga dan nama Yeshua ini oleh para Sarjana-Sarjana Yahudi ditulis ke dalam bahasa Yunani menjadi Iesous, jadi tidak salah bila Para Rasul Kristus menulis Nama Yeshua dalam Kitab-Kitab dan Surat-Surat dalam Perjanjian Baru menjadi Iesous.

TULISAN DI ATAS SALIB KRISTUS

Tercatat dalam Kitab Injil bahwa Pilatus wali negri Romawi untuk Yudea memerintahkan untuk ditaruh papan di bagian atas salib Kristus yang bertuliskan ‘Yesus Orang Nazaret Raja Orang Yahudi’ dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani:
Yohanes 19:19-20
19. Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.”
20. Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Dalam teks asli bahasa Yunani, bagian tulisan di papan yang berbahasa Yunani itu adalah ‘ιησους ο ναζωραιος ο βασιλευς των ιουδαιων’ bunyinya ‘Iesous o Nazoraios o Basileus ton Ioudaion’.

UNSUR-UNSUR YUNANI DAN IBRANI

Dari sini kita sudah mengetahui alasan logis mengapa Kitab Suci Perjanjian Baru oleh Para Rasul Kristus ditulis dalam bahasa Yunani Koine untuk keperluan agar Injil mudah disebar luaskan, mengingat bahasa Yunani Koine sebagai bahasa Internasional pada masa itu. Tentang proses penulisan Injil ini bisa kalian baca lebih lanjut di tulisan gua dan teman gua disini:
Alkitab Kristen sudah diubah ?
Kekristenan Adalah Agama Yang Melahirkan Karya Sastra
.
Walaupun Kitab Suci orang Kristen berbahasa Yunani dan kebanyakan menggunakan bahasa Yunani, tetapi unsur-unsur bahasa Ibrani tetap tidak dihilangkan dalam sastra dan buku-buku Ibadah umat Kristen, sebagai Contoh:
– αλληλουια(Allelouia) yang diambil dari bahasa Ibrani הללויה(haleluyah) yang artinya puji(הלל: halel) YAH(יה: YAH kependekan dari יהוה/YHWH/TUHAN).
– αμην(Amin) yang diambil dari bahasa Ibrani אמן(Amen) yang artinya bisa “terjadilah” atau “percaya”.
– Dll

BAHASA YUNANI YANG MAHA KAYA DAN KOMPLEKS

Bahasa Yunani karena dikembangkan oleh para pemikir-pemikir hebat pada jamannya dan disebar luaskan di banyak belahan dunia, akhirnya menciptakan sebuah bahasa yang kaya dan sangat bermakna. Sebagai contoh kata “cinta” dalam bahasa Yunani itu banyak kata, setiap katanya memiliki makna yang berbeda tetapi sangat jelas, berikut kata-kata yang menggambarkan “cinta” dalam bahasa Yunani:
– Αγαπη(Agape)
Dalam Kitab Suci Kristen, Agape digunakan untuk menggambarkan Cintakasih Sang Ilahi kepada manusia yang tidak menuntut balas. Namun dalam bahasa Yunani modern kata agape ini menjadi sangat luas maknanya dan digunakan untuk menerjemahkan “love” ke dalam bahasa Yunani modern, sebagai contoh “i love you” dalam bahasa Yunani diterjemahkan “se agapo”.
– Φιλια(Philia)
Kata philia digunakan untuk menyebut cinta persahabatan atau persaudaraan.
– Ερος(Eros)
Kata eros dalam perkembangan pada agama Yunani sering dikaitkan sebagai hubungan seksual yang merupakan ritual Agama Pagan pada zaman itu, namun sebenarnya makna asli eros tidaklah demikian. Eros adalah aktivitas cinta manusia kepada Sang Ilahi(Theos) secara badani, sebab manusia terdiri juga atas tubuh fisik, maka untuk mencintai Sang Ilahi secara penuh juga harus dilakukan aktivitas yang nyata dengan fisik, yang kebetulan pada zaman itu dalam Agama Pagan Yunani adalah dengan bakti seksual, sampai akhirnya sekarang kata eros sering dimaknakan sebagai sesuai yang berbau seksual.
– Στοργη(Storge)
Kata ini digunakan untuk menggambarkan cinta orang tua kepada anak.

KESIMPULAN

Penggunaan bahasa Yunani Koine sebagai bahasa Kitab Suci dan bahasa theologis dalam Agama Kristen bukanlah asal-asalan, tetapi ini adalah rentetan sejarah yang nyata dan dapat dibuktikan bahkan oleh orang sekuler sekalipun, yang mana Agama Kristen terlahir dari daerah yang multietnis dan multikultur. Namun dalam penyebarannya Agama Kristen tidak menuntut penggunaan unsur Yunani secara paksa, semuanya tergantung bahasa dan kebudayaan terkait.
Kata Χριστος(Khristos) dalam bahasa Yunani digunakan Para Rasul Kristus untuk menterjemahkan משיח(Mashiakh) dalam bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, namun untuk orang Kristen Arab dalam bahasa Arab ada kata yang semakna dengan Mashiakh yaitu مسيح‎(Masih), jadi orang Kristen Arab menterjemahkan Ο Χριστος(O Khristos: Sang Kristus) menjadi المسيح(Al-Masih). Hal ini juga sama, karena Nama Yesus ditulis dalam bahasa Yunani menjadi Ιησους(Iesous) dari Nama bahasa Ibrani ישוע(Yeshua), orang Kristen Arab bisa langsung mengambil dari bahasa Ibrani ini menjadi يسوع(Yasu’), dengan ini Nama Yesus Kristus disebut dan ditulis oleh orang Kristen Arab menjadi يسوع المسيح(Yasu’ Al-Masih). Jadi tidak salah penerjemahan kata-kata dalam keagamaan Kristen, asalkan kata-katanya benar-benar dicari yang sangat semakna. Walaupun begini, namun beberapa unsur yang tidak bisa diterjemahkan tetap dipertahankan sebagaimana adanya.
Bahasa Yunani dan Ibrani memang sangat berguna untuk keperluan theologi menafsir Kitab Suci Kristen, namun orang Kristen TIDAK BERIMAN ATAS KATA-KATA, tapi orang Kristen beriman kepada yang dilukiskan dibalik kata-kata tersebut.

Penulis: Ephitimia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.