WAHYU UMUM DAN WAHYU KHUSUS DALAM MEMANDANG AGAMA-AGAMA NON-KRISTEN

Nabi Musa di Gunung Sinai

Kadang kita bertanya: kalau Tuhan itu satu, mengapa banyak agama di dunia ini dengan ciri khasnya masing-masing. Hindu misalnya, identik dengan dewa-dewa yang berjumlah banyak sekali dan berpakaian ala India atau Bali sehingga rumit bagi golongan non-Hindu untuk mencerna kalau ternyata Yang di Atas itu berbeda budaya dari yang di bawah. Demikian pula Buddhisme dengan Boddhisatva dan Arhatnya atau Konghucu dengan pakaian ala Tiongkoknya.

Menanggapi keberagaman ini ada beberapa respon. Pertama, adalah mereka yang menganggap kalau Tuhan itu buatan manusia karena Tuhan tidak jauh-jauh menyerupai manusia tempat di mana Tuhan itu dipuja. Giliran ganti budaya otomatis ganti Tuhan. Voltaire, seorang Deis (percaya Tuhan tapi tidak percaya agama) menganggap, keberadaan wahyu-wahyu yang ditemui dalam berbagai agama membuat Tuhan tidak dapat diketahui sebab kalau Tuhan dapat diketahui, tentunya Ia akan mewahyukan kebenaran secara konsisten[1]. Golongan kedua menganggap bahwa semua wahyu ini sebenarnya memiliki 1 sumber Tuhan yang sama. Hanya saja karena mendarat di tempat yang berbeda maka mengalami refraksi (bias) namun tetap berfungsi untuk menyampaikan kebenaran. Golongan ini menganggap wahyu lain pun sama benarnya asal sudah disaring dari konteks tempat ia mendarat sehingga nampaklah wahyu yang ingin disampaikan Tuhan. Model yang diambil golongan ini adalah Gajah Ashoka, setiap agama hanyalah fragmen dari kebenaran besar yang tidak akan bisa dipahami manusia dan setiap fragmen ini terbuka untuk dikritik. Inilah model pluralis (yang juga tercermin dalam ekumenisme dalam Kekristenan)[2]. Golongan ketiga lebih tegas dalam menanggapi isu ini. Mereka berpemahaman bahwa hanya ada 1 wahyu yang benar dan yang lain adalah manipulasi dan tipu daya dari manusia[3A] atau kuasa jahat[3B]. Inilah prespektif fundamentalis.

Secara sepintas, ketiga pandangan ini tidak memuaskan menurut caranya masing-masing:

Pandangan Pertama meskipun tidak mendustai keberadaan Tuhan namun membuat Tuhan menjadi terlalu nan jauh di atas sana sehingga tidak punya urusan terhadap alam ini. Pandangan ini merekomendasikan Agnostikisme (tidak tahu akan keberadaan Tuhan) dan Deisme. Kelemahan pandangan ini adalah prespektif ini gagal menyadari bahwa manusia dalam kelemahannya pasti membutuhkan sosok untuk bersandar dan sosok ini harus accessible dan dekat. Jika Tuhan dibuat terlalu nan jauh di sana, maka tidak akan ada gunanya Tuhan ada atau tidak sebab Tuhan cuma pajangan

Pandangan Kedua selain relatif mendustai ortodoksi setiap agama yang tentunya akan membuat kaum fundamentalis memberang karena sifat kebenaran agama adalah konstan, juga membuat suatu kemunduran: wahyu yang dimaksudkan untuk membuat diri Tuhan diketahui menjadi manusia malah dimundurkan menjadi Tuhan yang abstrak sebab Tuhan bukan lagi Yesus, Brahma maupun Ahura Mazda melainkan Unknown yang mana Yesus, Brahma dan Ahura Mazda adalah cuma penerkaan manusia atas yang Unknown ini.

Pandangan Ketiga, sekalipun menegakkan ortodoksi tiap agama tempat pandangan ini berpijak, gagal menerka bahwa di luar agamanya sebenarnya ada orang-orang yang memiliki rasa keberimanan dan kerinduan akan yang ilahi. Bapa Reformator, John Calvin mempostulatkan adanya suatu sensus divinitatis atau perasaan akan keberadaan Ilahi pada semua orang[4], hanya saja tidak tahu mau dikemanakan atau diungkapkan perasaan itu. Menganggap bahwa semua orang di luar agamanya adalah pemuja setan, sebenarnya mendustai keberadaan sensus itu.

Maka, pengarang menawarkan pandangan keempat. Pandangan ini melibatkan wahyu umum. Sebelumnya, apa itu wahyu umum? Singkatnya, Wahyu Umum adalah pengungkapan ilahi yang nampak kepada semua orang tanpa memandang iman mereka. Wahyu Umum ada 5 yaitu[5]:

  • Alam Semesta
  • Musim-musim
  • Sejarah Dunia
  • Peristiwa-peristiwa sehari-hari dalam kehidupan manusia
  • Hati Nurani

Semua manusia secara spontan dapat mengetahui bahwa tidak mungkin dalam durasi yang sangat lama dan dalam skala yang sangat besar segala sesuatu bisa tertata sedemikian tepat dan rapinya tanpa kesengajaan dan tentunya, setiap yang sengaja pasti memiliki kehendak, dan dengan demikian, pribadi. Dari situ mereka bisa menginferensikan adanya Tuhan sekalipun tidak bisa mengamati-Nya.

Bagi kita orang Kristen yang tahu lewat kesaksian para Rasul bahwa alam semesta ini dijadikan oleh Firman Allah atau Kristus, kita tahu bahwa agama-agama lain pun mengamati Kristus juga dari gejala-gejala karya-Nya. Kita sudah tidak perlu lagi berdebat apakah Kristus ada atau tidak sebab agama lain pun tahu Kristus itu ada tetapi mereka tidak tahu siapa Kristus sehingga masih harus bergumul, menunggu, mencari dan berusaha untuk menggapai-Nya. Nah, bagi iman Kristen jelas bahwa Yesus adalah Kristus sehingga tugas setiap kita adalah mewartakan kepada mereka, bahwa yang telah mereka cari itu sudah datang sebagaimana yang dicontohkan Rasul Paulus pada penduduk Athena yang ditulis dalam Kisah Rasul 17:23 tentang mezbah kepada dewa yang tidak dikenal.

Banyak peradaban yang sebenarnya pararel dengan iman Kristen. Misal: Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un dalam Islam, sejajar dengan 1 Korintus 8: 6[6]; Sunyata dalam Buddhisme pararel dengan Kenosis pada Filipi pasal 2: 9[7]. Sementara Tao Te Jing dalam Taoisme sejajar secara substansi dengan Matius pasal 5: 1-12. Trimurti dalam Hinduisme pun bisa sejajar secara fungsional dengan Roma 11: 36. Pararelisme yang dicantumkan pada tulisan ini hanya sedikit dari banyak aspek yang ada. Kesejajaran ini mengimplikasikan 2 hal:

Pertama, tidak ada agama yang kurang secara substantif-fungsional baik Kristen maupun agama lain yang sampai menuntut adanya inkorporasi story agama satu ke agama yang lain (mendekati sinkretisme). Semua worldview agama-agama memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum karena mereka telah eksis selama ribuan tahun dengan obyek material (manusia, alam, Tuhan) dan obyek formal (kosmologis, antropologis, etis, eksistensial, dll) sama walaupun dengan narasi, ekspresi dan regulasi yang berbeda-beda. Demikian pula tidak perlu kita merasa rendah diri ketika berhadapan dengan teks lain yang menyajikan hal yang selama ini terkubur dalam iman kita. Tidak perlu sampai kemudian merasa terkhianati oleh Alkitab karena silau akan teks lain lalu berbalik menyerang iman Kristen dengan bermodalkan kitab lain sebagai kacamata, yang tentunya tidak fair.

Kedua, melihat bahwa secara substansi ada kesejajaran antara Kristen dengan non-Kristen mestinya kita tidak perlu melihat iman non-Kristen sebagai sesuatu yang pasti, seluruhnya, dan selamanya datang dari setan melainkan suatu upaya manusia yang ingin menggapai Tuhan namun tidak mendapatkan kesempatan untuk menerima pengungkapan khusus yaitu Inkarnasi Yesus. Agar mereka bisa menggapai itulah Gereja perlu bermisi. Alih-alih memposisikan teologi iman lain sebagai musuh dan berusaha menghancurkan tatanan mereka dalam rangka menang atas setan, Kekristenan mestinya memposisikan teologi lain ini sebagai slot untuk diisi oleh Kristus, subyek yang mereka cari-cari selama ini.

Referensi:

1. https://enacademic.com/dic.nsf/enwiki/197208 diakses pada 1 Oktober 2019

2. Said, Nur. 2015. Nalar Pluralisme John Hick Dalam Keberagamaan Global dalam FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 3

3A. https://www.gotquestions.org/so-many-religions.html diakses pada 1 Oktober 2019

3B. https://www.gotquestions.org/oldest-religion.html diakses pada 1 Oktober 2019

4. Pritchard, Duncan. 2014. What Is This Thing Called Knowledge; New York; Routledge halaman 136

5. Katekisasi dengan Pater Lazarus Bambang Sucanto, Gereja Ortodoks Aghios Dionysios Zakynthos, Yogyakarta pada tanggal 20 November 2018

6. Dr. Bambang Noorsena dalam ceramahnya di GKJ Adisucipto, Yogyakarta pada 11 Juni 2019

7. Pdt. Seno Adhi Noegroho, M.th dalam lekturnya di AKINDO Yogyakarta pada 30 September 2019

Penulis: Henry Kurniadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.