MENGAPA ADA LUKISAN FILSUF YUNANI KUNO DI GUNUNG ATHOS?

Jika kamu penganut Ortodoks Timur maka kamu tidak akan asing dengan Gunung Athos. Ya, gunung yang di atasnya berdiri 20 biara tempat para monachos atau biarawan khusus pria ini terkenal karena begitu ketatnya aturan masuk di sana terutama avaton atau larangan masuk untuk wanita sampai-sampai binatang-binatang besar yang berkelamin betina seperti ayam, sapi, domba, kambing, kuda dan babi pun tidak boleh ada di sana.

Gunung Athos, menurut tradisi dimulai sebagai pusat kebiaraan Kristen sejak Bunda Maria ibu Yesus terdampar di semenanjung itu bersama Rasul Yohanes Penginjil. Karena begitu terpukau dengan keindahan panorama semenanjung itu maka Bunda Maria memohon kepada Anaknya agar semenanjung itu menjadi tamannya dan permintaan itu makbul oleh Kristus sendiri lewat suara dari surga. Sejak itu, gunung ini menjadi suaka bagi yang ingin mengakses keselamatan yang telah dianugerahkan Allah dengan berkarya dalam kebiaraan.
Menariknya, meskipun memiliki nuansa agamis yang kentara, dapat ditemukan mural-mural di sekitar biara yang berbau sekuler. Beberapa mural seperti peristiwa Alexander Agung dan para filsuf seperti Solon, Sybil, Sokrates, Plutarkhos, Homer, Theucydides, Plato dan Aristoteles. Mural-mural ini berada di biara seperti Meteora, Hagia Lavra dan Vatopedi).

Lukisan para Filsuf Yunani Kuno (pra Kristen) di salah satu Biara di Gunung Athos

Pertanyaanya adalah, “mengapa mural-mural sekuler ini bisa ada di tempat yang sakral seperti ini?” Well, jawabannya adalah karena selama periode Ottoman, biara adalah tempat untuk menimba ilmu berhubung sekolah-sekolah berbasis keagamaan dilarang di masa pemerintahan Turki. Akibatnya, biara bukan hanya sebagai tempat menimba spiritualitas tetapi juga pengetahuan yang sifatnya kognitif dan fresko atau mural ini digambar sebagai ilustrasi untuk mempermudah para pelajar yang menimba ilmu di sana. Lalu apa makna mural-mural ini dan apakah tidak bertentangan dengan kehidupan religius biara? Untuk menjawabnya kita perlu tahu apa bagaimana Gereja dalam memandang kehidupan non-religius.
Pertama, mengutip Janasuci Maximos sang Pengaku Iman yang pernah berkata, “tidak ada kejahatan di dalam segala sesuatu, yang jahat hanya ada di dalam penyalahgunaannya” Gereja sama sekali tidak menolak ilmu-ilmu sekuler yang satu bidang dengan para filsuf di mural tersebut. Tidak ada pertentangan antara jiwa-raga di mana yang ragawi harus kalah. Malah sebaliknya, yang ragawi bisa dipakai untuk memuliakan yang rohani dan sebaliknya, rohani memuliakan yang jasmani. Kasus-kasus di mana Gereja bersinergi dengan filsafat, sains, seni, ilmu sosial, dan lain-lain seperti ini sudah mulai marak sejak zaman Romawi-Yunani hingga dunia modern saat ini seperti uskup ROCOR Alm. Alexander Mileant (1938-2005) yang adalah pasca-sarjana teknik elektronika yang bekerja di laboratorium pengembangan propulsi pesawat jet NASA sekaligus penulis 300 pamflet penginjilan dalam 4 bahasa dan uskup Nicholas Hatzinikolaou (1954-) dari Gereja Yunani yang pernah menjadi peneliti kardiovaskular dan medis luar angkasa untuk NASA.

Kedua, para filsuf sendiri memang mengajarkan filosofi duniawi. Tapi, jika dipakai dengan benar akan mengantarkan kita pada kebenaran Kristus sehingga para filsuf ini berjasa dalam perkembangan teologi kekristenan karena karya-karya mereka dapat dipakai untuk memahami, menjabarkan dan membela pemahaman terhadap wahyu Tuhan. Karya-karya mereka berkontribusi untuk kemajuan umat manusia yang ujungnya adalah demi kebaikan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Namun sekali lagi, jika penggunaannya baik dan benar.
Oleh karena itu, adalah hoax jika iman membunuh akal budi, membinasakan kreativitas, dan memupuk fanatisme buta. Mari kita berdayakan akal budi, nurani, dan kehendak bebas kita agar bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan lewat kasih dengan sesama sesuai dengan talenta masing-masing supaya kelak ketika kita di hadapan tahta Anak Domba perbuatan kita bisa menjadi pertanggungjawaban yang baik. Tuhan memberkati.
Sumber:
• Data tentang Gunung Athos: Wikipedia Bahasa Inggris
• Data tentang mural filsuf: John Sanidopoulos dalam wordpressnya (johnsanidopoulos.com)

Special thanks to: Innokentios Chang, Seminarian Orthodox
Penulis: Andreas Henry Kurniadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.