INKARNASI, ALLAH ADALAH KASIH

Father, Son, and Holy Spirit karya Munir Alawi
Sumber Gambar: http://www.fineartamerica.com

Saya dulu pernah berpikir, mengapa Allah kita itu kok mau-maunya jadi manusia? Kok Allah kita itu mau menyatakan diriNya didalam Yesus Kristus. Ada agama yang membangga-banggakan allahnya karena ia menganggap bahwa allah mereka yang tidak pernah kelihatan itu jauh lebih kudus daripada Allah kita. Saya sempat terguncang dengan berbagai pertanyaan dan tudingan dari oknum agama tertentu dan jujur saja sempat mempertanyakan iman saya. Dan juga karena Allah mau turun ke dunia, hal ini lantas menjadi olok-olokan oknum agama tertentu dengan mengatakan bahwa Tuhan kita kok dibunuh ciptaanNya? Mengapa Allah orang Kristen itu mau menampakkan diriNya dan mau dengan repotnya datang ke dunia?

Jawabannya adalah DOSA (Yohanes 8:34, Roma 3:23). Namun mereka yang tetap berkeras hati tetap mengajukan pertanyaan yang menyerang. Mereka beranggapan bahwa jika Allah orang Kristen mau mengampuni dosa umatNya kenapa tidak langsung diampuni saja? Mengapa Allah orang Kristen malah repot-repotnya untuk datang ke dunia, menjadi manusia lemah?

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:1-25), hubungan antara manusia dengan Allah cenderung merenggang, tidak intim seperti sebelum kejatuhan manusia dalam dosa. Dosa yang dilakukan manusia membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dosa juga telah membentuk suatu jurang pemisah antara manusia dan Allah  (Yesaya 59:2) sehingga manusia yang berdosa tidak mampu menjangkau Allah, karena Ia kudus (Yesaya 6:3, 1 Petrus 1:16) Allah memberikan hukuman kepada manusia atas dosa yang diperbuat (Yehezkiel 18:30, Mazmur 62:12-13, Yohanes 5:29, Wahyu 22:12), dosa telah mengikat manusia dan sukar untuk terlepas dari kencenderungan berbuat dosa (Matius 26:41). Setiap saat manusia selalu berbuat dosa baik kecil maupun besar. Allah kita adalah Allah yang maha adil (Mazmur 11:7, Mazmur 116:5, Yesaya 30:18, Yeremia 12:1), sudah layak dan sepantasnya kita mendapatkan hukuman atas dosa yang kita perbuat dan hukuman yang setimpal adalah kebinasaan yang kekal (Roma 6:23). Namun di balik sifat Allah yang Maha adil dan Maha berdaulat itu adapula sifat Allah yang paling utama adalah KASIH (Mazmur 86:15, Roma 5:8, Efesus 2:4-5, 1 Yohanes 3:1, 1 Yohanes 4:10,16) dan bukan sembarangan kasih, bukan kasih eros, fileo ataupun storge, tetapi kasih Agape, kasih sejati yang tidak mengenal perhitungan dan tidak mementingkan diri sendiri serta rela berkorban (Yohanes 15:13). Namun bukankah akan menjadi hal yang bertentangan, antara menyelamatkan manusia berdosa dengan keadilan Allah untuk menghukum manusia?

Untuk itulah Allah mengosongkan diriNya dan menjadi rupa insan (Yohanes 1:14). Ia yang adalah KASIH yang AGAPE itu telah menjadikan diriNya sebagai korban tebusan (Roma 3:25, Yohanes 10:17, Efesus 1:7, Ibrani 7:27)  yang terbaik (1 Petrus 1:18-19) agar manusia yang percaya padaNya diselamatkan (Yohanes 3:16) serta tidak akan dipermalukan (Roma 10:11, 1 Petrus 2:6). Hal ini terjadi supaya keadilan serta kasih daripada Allah itu tidak saling bertentangan.

Allah harus langsung turun tangan untuk menyelamatkan manusia karena manusia yang berdosa adalah sukar untuk menggapai dan memandang Allah yang Kudus itu (Keluaran 33:20) maka dari itu Ia harus turun  dan berinkarnasi menjadi manusia fana seperti kita (Yohanes 1:14, 1 Timotius 3:16, 1 Yohanes 4:2). Dan hanya Ia yang mampu dan layak menyelamatkan kita dari jeratan dosa dan mengantar kita pada Bapa, sebab Ialah yang satu-satunya tak bernoda dan berdosa (Yohanes 14:6, 2 Korintus 5:21).

Meskipun Ia dilahirkan dalam rupa insan, Ia sungguh Allah (Yohanes 1:1, Yohanes 8:58, Yohanes 13:13, Yohanes 20:28, Roma 9:5, Kolose 2:9), bukan setengah Allah bukan setengah manusia tetapi Ia juga sungguh adalah manusia yang utuh seperti kita juga (Matius 4:2, Roma 5:15, 1Timotius 2:5). Ia menunjukkan diriNya sebagai Mesias (Matius 16:16-17, Markus 8:29) dan Jalan Kehidupan (Yohanes 14:6, Yohanes 11:25-26) serta adalah Allah itu sendiri (Yohanes 10:30, Yohanes 8:58) Namun bangsa yang dipilihNya (Keluaran 19:5-6, Ulangan 14:2) justru menolak  diriNya (Yohanes 1:10-11) serta bersepakat untuk menangkap (Matius 26:4, Markus 14:1, Yohanes 18:12) , mengadili (Matius 27:27, Yohanes 18:33) dan menyalibkan Dia (Matius 27:35, Markus 15:24, Lukas 23:33, Yohanes 19:23). Peristiwa penyaliban Yesus ini menjadi suatu momentum dimana Allah yang adil, berdaulat itu mau menunjukkan kasihNya yang Maha Dahsyat (Yohanes 3:16) kepada kita melalui pengorbanan Yesus dan oleh darahNya yang Kudus, dosa kita turut disucikan (1 Yohanes 1:7). Melalui pengorbananNya juga kita yang percaya kepada Kristus beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16, Roma 10:9). Kasih yang dahsyat melalui kematian Yesus dan kebangkitan Yesus, membuat hidup kita telah beroleh pengampunan (Efesus 1:7, Kolose 1:14) sehingga kita layak menjadi anak-anak Allah oleh sebab Yesus Kristus (Galatia 3:26-27, Galatia 4:7) Kita patut bersyukur karena memiliki Allah yang Adil dan juga adalah Allah yang KASIH sebab keselamatan yang daripada Allah bukan hasil usaha kita dan perbuatan baik kita tetapi anugerah semata/ Sola Gratia (Efesus 2:8)

Penulis: Elisa Hendriko Hutabarat (San Gorge Wilayah Kalimantan. Jemaat HKBP Teluk Mulus Ress. Pontianak)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.